Suara dari balik Cadar

Aku seorang muslimah. Dan aku mengenakan niqob (cadar).

Aku adalah salah satu dari mereka yang terkena dampak undang-undang baru yang berlaku di Prancis. Aku adalah salah satu dari mereka yang diperbincangkan oleh para politisi, kelompok yang menamakan diri mereka penjunjung tinggi hak asasi manusia, dan juga oleh media.

Aku adalah salah satu dari mereka yang banyak orang menganggap perlu untuk dibebaskan.

Aku adalah salah satu dari mereka yang mungkin engkau sangka tertindas hidupnya.

Aku adalah salah satu dari mereka yang kebanyakan engkau benci melihatnya…

Aku adalah salah satu dari mereka yang mungkin menurut engkau tidak terpelajar; salah satu dari mereka yang menurut engkau tidak berhak menyuarakan sesuatu.

Tapi tidaklah demikian adanya. Karenanya aku akan berbicara.

Aku bukan orang Arab, Asia, atau bahkan Afrika. Aku adalah orang Australia. Jangan salah sangka, aku bukan ‘generasi pertama’, ‘generasi kedua’, atau bahkan imigran. Dari keluarga ibuku, aku adalah keturunan Prancis-Kanada, dan dari keluarga ayahku, aku adalah keturunan Inggris. Aku tumbuh dalam sebuah keluarga Kristen, dan aku pun kerap datang ke gereja. Dulu aku adalah anggota tim renang di sekolah, dan tim bola voli wilayah. Saat musim panas tiba, aku berlibur dengan keluargaku ke Gold Coast, dan ya… Aku berpendidikan. Aku memiliki gelar sarjana.

Saat usiaku mencapai 18 tahun, aku mulai mengenal agama Islam. Aku mempelajarinya, dan aku menjadi pemeluknya satu setengah tahun kemudian. Saat usiaku mencapai 20 tahun, aku pun mulai mengenakan kerudung, dan setelah aku menikah, aku menyempurnakannya dengan cadar.

Karena suamiku kah aku bercadar? Tidak.

Suamiku bahkan tidak menginginkanku mengenakannya, meskipun ibu dan saudari perempuannya mengenakannya, dan karena menghargai keinginannya maka aku tidak mengenakan cadar selama dua tahun. Tapi aku menginginkannya, dan pada akhirnya aku mengenakannya, dan mengetahui bahwa yang demikian itu disyariatkan dalam agama kami, suamiku sadar bahwa ia tidak berhak melarangku, dan kini ia sangat menghargai kesungguhanku.

Lalu, aku mengenakannya karena ayahku? Tidak. Ia beragama katolik.

Karena saudara laki-lakiku? Juga bukan, aku tidak punya saudara laki-laki.

Atau pamanku? Apalagi, ia adalah seorang ateis.

Lalu karena anak laki-lakiku? Anak laki-lakiku yang paling tua baru berumur 8 tahun. Lalu mengapa??

Karena aku menginginkannya, itulah alasannya.

Dan memandang seolah cadarku menyakiti orang lain, maka itu cukup menjadi alasan bagi engkau semua pemuja paham liberal dari sebuah masyarakat liberal; Aku akan menuntaskan pembahasanku di sini. Sekali pun demikian halnya dengan model pakaian lainnya, tapi tidak akan pernah cukup jika itu terjadi pada cadar. Engkau menghendaki lebih, maka akan aku lanjutkan.

Lalu apa yang membuatku ingin mengenakannya? Dua hal: Iman dan pengalaman.

Iman? Ya, Iman. Iman kepada Penciptaku, iman kepada takdir-Nya, iman dalam Islam. Suatu iman yang mendalam. Banyak yang bertanya-tanya tentang iman umat Muslim, tentang keyakinan mereka dan komitmen mereka. Inilah iman, yang jika engkau bukan Muslim, maka sulit untuk menjelaskan atau menguraikannya. Kitab suci umat Islam, Al Qur’an, memiliki banyak keajaiban ilmiah di dalamnya, yang telah memikat beberapa ilmuwan secara global, sehingga mendatangkan hidayah kepada mereka untuk memeluk Islam. Terlebih lagi, Al Qur’an tidak berubah sedikit pun meski telah lewat waktu lebih dari seribu tahun, sejak pertama kali diturunkan; tidak satu huruf pun berpindah dari tempatnya. Aku berani mengatakan, tidak ada satu pun kitab agama lain yang menyerupainya, dan ini memberikan petunjuk pada akar dari iman yang demikian. Di dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berhijab, ‘Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.’ (lihat Al Ahzaab ayat 59 – Pent). Karenanya hijab kita adalah suatu pelindung; sebuah kebebasan.

Perlindungan? Engkau bertanya. Kebebasan? Dari apa?

Di sini aku akan meneruskan alasan keduaku untuk mengenakan cadar. Seperti yang aku katakan, aku tumbuh dalam masyarakat sekuler Barat, sebuah gaya hidup sekuler Barat sejati. Aku mengenakan pakaian bergaya sekuler, berpola hidup sekuler, dan menikmati semua ‘kebebasan’ dalam masyarakat yang seperti itu. Apakah aku merasa merdeka, bebas? Singkat kata, kami diajarkan bahwa demikian itulah kebebasan, jadi aku tidak pernah berpikir sebaliknya. Hingga aku memeluk agama Islam, dan mulai berhijab, saat itulah aku benar-benar merasa bebas, dan menyadari, bahwa sebelumnya bukan kebebasan hakiki yang aku rasakan. Tapi, dari waktu ke waktu kami selalu mendengar celotehan bahwa wanita Muslim dipaksa untuk berkerudung, mereka adalah orang-orang yang ditindas; diperlakukan oleh para pria Muslim tidak lebih sebagai ‘objek.’ Dan bahwa cadar, burqa, hijab; apa pun istilah yang Anda pakai, adalah suatu bentuk ‘penjara’.

Tapi bagaimana dengan penjara berupa kegelisahan dan depresi?

Bagaimana dengan penjara berupa anoreksia dan bulimia?

Bagaimana dengan penjara berupa rutinitas untuk mati-matian berolah raga?

Bagaimana dengan penjara berupa selalu merasakan kebutuhan untuk memiliki penampilan seperti super-model di sampul majalah Cosmo, atau penyanyi pop dalam video klip?

Bagaimana dengan perbudakan fesyen?

Bagaimana dengan jebakan berupa iri dengki?

Berapa banyak wanita yang membuang uang yang susah payah mereka peroleh, merusak kesehatan fisik dan mental mereka, mengumbar tubuh mereka sehingga rentan terhadap tindakan pelecehan dan penistaan agar… agar apa?

Agar mendapatkan pujian dan sanjungan. Pujian dan sanjungan siapa? Pria.

Dan ya, tampaknya pujian dan sanjungan dari wanita lain juga. Jadi tampaknya wanita kafir tidak hanya menjadi budak bagi pria, tetapi juga budak bagi masyarakat secara keseluruhan.

Sebelum engkau meneriakkan ketidaksetujuanmu, manakah dari kalian yang akan bereaksi keras jika diberi tahu bahwa justru engkaulah yang tertindas, camkan. Lihatlah di sekitarmu; renungkan masyarakat kita saat ini, beserta nilai-nilainya, pemikirannya, tujuannya, arahnya, masa lalunya, hobinya…

Apa kebaikan yang didapat dengan membujuk para wanita untuk semakin mengangkat pakaiannya?

Apa kebaikan yang didapat dengan memajang gambar-gambar wanita yang mengumbar kemolekan tubuhnya di setiap papan reklame dan majalah, di TV, di film, dan di internet?

Benarkah itu semua mendatangkan kebaikan bagi wanita?

Para wanita dalam gambar-gambar itu mungkin merasa bangga dengan dirinya sendiri untuk saat ini, tetapi apa dampaknya bagi wanita lainnya?

Wanita yang memandang gambar-gambar itu cenderung menjadi gelisah, iri, tidak percaya diri dan mencela dirinya sendiri. Banyak pria yang memandangnya dan timbul birahi pada dirinya, atau bahkan merasa tidak senang, kurang puas dengan istri mereka. Apa dampak dari semua ini?

Selingkuh, pencampakan, penyiksaan, dan bahkan pelecehan kepada wanita lain, dan bahkan anak-anak, yang dilakukan oleh pria yang tidak memiliki pasangan yang sah untuk memuaskan hasrat mereka.

Dan ya, aku bisa mendengar sebagian dari engkau akan berkata; ‘salah si pria itu sendiri, seharusnya mereka bisa mengendalikan diri!’ Singkat kata, argument kalian sia-sia belaka, karena sebagian besar pria, pada hakikatnya, hanya dapat bereaksi demikian, seperti halnya seekor singa lapar yang bereaksi jika dilontarkan sepotong daging segar kepadanya namun dilarang untuk memakannya….

Apakah para wanita pengumbar kemolekan tubuh dalam gambar-gambar dan industri ini menyadari atau bahkan peduli bagaimana begitu banyak gadis muda yang kelaparan, mencahar perutnya dan memaksa diri mereka agar memiliki kemolekan yang sama? Sama sekali TIDAK.

Bahkan mereka merasakan kepuasan tersendiri sebab hal itu. Salah satu penyanyi berpakaian minim bahkan dengan lantang dan keji baru-baru ini menyanyikan lagu ‘Don’t you wish your girlfriend was hot like me’ (Tidakkah engkau menginginkan pacarmu seksi seperti aku – pent).

Apa?!

Apa maksud perkataan wanita ini?

Apa yang tersirat di dalamnya?

Tidak sadarkah mereka dengan apa yang telah mereka perbuat kepada sesama perempuan?

Karenanya begitu banyak gadis dungu yang menyakiti diri mereka sendiri secara fisik maupun mental saat memandang dengan iri dan gelisah para penyanyi wanita itu. Apakah hal yang sama juga terjadi pada para wanita penyanyi ini, para ‘idola’ ini; jika pasangan mereka membandingkan mereka dengan wanita lain yang lebih seksi, maka saksikan reaksi mereka! Dan saat anak-anak perempuan mereka diganggu oleh lelaki, atau wanita seperti mereka, membangkitkan birahinya, akankah mereka bercermin?

Akankah mereka bertindak?

Akankah masyarakat bertindak?

Ya, kita lihat reaksinya: larang pemakaian cadar!

Sungguh aku takjub melihat begitu banyak wanita khususnya, memandang hina caraku berpakaian.

Tapi…

Mana yang ia pilih, sekretaris suaminya memakai pakaian seperti yang aku kenakan atau pakaian minim?

Mana yang ia pilih, pelayan wanita yang menyajikan di meja saat makan malam ulang tahun pernikahan mereka memakai pakaian seperti yang aku kenakan atau pakaian minim?

Apakah aku dan saudari-saudariku membuat suami mereka berpaling? atau membuat kekasih mereka tertarik?

Apakah aku dan saudari-saudariku menyebabkan anak-anak perempuan mereka menderita anoreksia, atau anak-anak lelaki mereka menjadi candu pornografi?

Apakah aku dan saudari-saudariku yang wajah dan tubuhnya memika perhatian suami/kekasih mereka di setiap kesempatan?

Apakah aku dan saudari-saudariku yang membuat bangkit birahi para pria itu sehingga mereka memperkosa atau melakukan pelecehan seksual?

Model ‘pakaian’ siapa yang benar-benar menindas dan membahayakan wanita lain?

Sekarang aku telah menyampaikan semuanya, dan meskipun aku sendiri, tapi aku berbicara atas nama ratusan lainnya. Aku telah menjelaskan kepadamu bahwa mayoritas kami telah memilih model pakaian ini, khususnya di Barat. Aku telah memberi tahu engkau bahwa kami mencitai pakaian ini, kami menginginkannya, dan aku telah mencontohkan kepadamu tentang kebaikan yang terkandung dalam pakaian ini.

Jadi bagi kalian yang benar-benar peduli untuk ‘membebaskan’ aku, maka kalian telah mendengarkan semua penjelasankan, maka bebaskan aku dan saudari-saudariku untuk memakai pakaian ini.

Oleh: Ukhtiy Khadijah Natalie Arbee

6 December 2011 ·

About Me


widget

Stuff I Like

See more stuff I like